Dampak Penelantaran Terhadap Perkembangan Otak Anak

Jangan anggap remeh penganiayaan dan penelantaran anak, karena tindakan tersebut akan mengganggu perkembangan sel-sel otak. Bukan cuma itu. Nantinya, si kecil akan melalui masa dewasanya dengan berbagai masalah psikologis.

firraz_jatuh_180807

firraz_jatuh_180807

Penganiayaan dan penelantaran anak memang terdengar begitu akrab di telinga kita. Karena, hal ini bisa menimpa anak siapa saja. Bisa anak tetangga, kenalan atau keluarga sendiri. Penelitian telah membuktikan, tin¬dakan semena-mena tersebut telah banyak menimbulkan korban, termasuk pada perkembangan otak si kecil itu sendiri. Lalu, sejauh mana perkembangan otak anak akan terganggu akibat penganiayaan dan peneiantaran tersebut? Gangguannya bisa permanen Hingga kini, para peneliti dari Rumah Sakit McLean, Massachusetts, Amerika Serikat, telah menemukan 4 macam gangguan otak yang diakibatkan oleh pengani¬ayaan dan penelantaran anak-anak. Bahkan, pada jurnal Cerebrum edisi musim gugur 2000 disebutkan, para peneliti juga mene¬mukan bukti bahwa gangguan dalam per¬kembangan otak yang terjadi sejak dini ini dapat menyebabkan gangguan pada saat anak dewasa, seperti rasa cemas dan depresi. “Penelitian menunjukkan, perlakuan buruk pada masa anak-anak dapat menye¬babkan perubahan fungsi otak maupun strukturnya,” kata Martin Teicher, MD, PhD, Direktur Program Penelitian Perkem¬bangan Biopsikiatri pada RS McLean. Seperti kita ketahui, bayi lahir dengan sel-sel saraf otak (neuron) yang berlimpah ruah. Otak bayi ini akan terus berkembang sepanjang masa anak-anak dan remaja. “Nah, interaksi anak dengan lingkungannya akan membuat sel-sel otak saling berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Kemudian, hubungan yang sudah terbentuk tadi akan ‘terpangkas’ selama masa pubertas dan dewasa akibat berbagai peristiwa yang dialaminya. Maka dari itu, pengalaman yang dialami anak, baik atau buruk, akan menentukan bagaimana sel-sel otaknya saling berhubungan,” kata Teicher.

Ada satu hal yang mengkhawatirkan akibat penganiayaan dan penelantaran pada masa anak-anak. “Gangguan otak yang dialami si kecil akibat perlakuan ini sifatnya bisa permanen. Makanya, pengalaman buruk ini bukan peristiwa yang mudah dilupakan anak begitu saja,” kata Teicher. Sistem limbik yang terganggu Sistem limbik merupakan sistem yang mengatur hubungan antara sel-sel otak, dan kadangkala disebut sebagai the emotional brain. Atau bisa juga dikatakan, bahwa limbik bertanggung jawab terhadap pengendalian emosi-emosi yang paling mendasar (menangis, tertawa, dan sebagainya) dan mengarahkannya sedemikian rupa sehingga anak bisa berta-han dalam hidup nantinya. Para peneliti McLean menemukan bukti, penganiayaan menyebabkan sel-sel saraf limbik mengalami gangguan ketika saling berhubungan. Penelitian ini dilakukan dengan tes EEC (Electroencephalography), yakni tes yang digunakan untuk mengukur gelombang otak. Tim dari McLean meneliti sekitar 253 orang dewasa yang datang ke klinik kesehatan mental untuk dinilai secara psikiatrik. Dilaporkan pula bahwa sekitar 50% dari responden tadi mengalami penganiayaan secara fisik dan/atau seksual ketika masa kanak-kanak. Peneliti dari McLean tersebut lalu mengembangkan semacam daftar (The Limbic System Checklist-33 atau LSCL-33) untuk menentukan seberapa sering para pasien menga¬lami gejala-gejala yang mirip dengan pasien yang mengalami epilepsi (tempo¬ral lobe epilepsy). Hasil penelitian menun¬jukkan, pasien yang pernah dianiaya akan mendapat nilai yang lebih tinggi karena sistem limbiknya memang terganggu. Penelitian tadi dilanjutkan lagi dengan mengukur gangguan sistem limbik dari 115 anak. Ternyata, pasien yang pernah mengalami penganiayaan mengalami gangguan pada limbik hingga dua kali lipat dibandingkan mereka yang tidak pernah mengalami penganiayaan. Sekalipun demikian, yang paling menarik dari penelitian tersebut adalah, gang¬guan pada limbik secara berlebihan akan mempengaruhi “tugas” dari hemisfer (be-lahan otak) kiri. Seperti kita ketahui, be-lahan otak kiri digunakan untuk berpikir logis dan rasional, menganalisa, bicara, serta berorientasi pada waktu dan hal-hal yang terinci. Selain itu, gangguan pada limbik erat juga hubungannya dengan perilaku anak yang senang menyiksa diri sendiri dan bersifat lebih agresif. Perkembangan hemisfer kiri yang terhenti Masih soal pengaruh penganiayaan dan penelantaraan anak terhadap perkem-bangan hemisfer kiri dan hemisfer kanan. Dari 6 penelitian dan analisis yang ter-pisah, dengan melibatkan kelompok terke-cil sekitar 20 orang dan kelompok terbesar sekitar 115 orang, para peneliti tadi melakukan tes neuropsikologis untuk me¬ngukur kemampuan otak kiri dan kanan si pasien. Selain itu, tim McLean tersebut juga melakukan pencitraan (scanning) de¬ngan MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan tes EEC secara bersamaan. Adapun pencitraan dengan MRI dilakukan untuk mendapat gambaran struktur otak si pasien, sementara tes EEC dilakukan untuk mengetahui fungsi otaknya.

Hasil tes tersebut menunjukkan tidak optimalnya perkembangan hemisfer kiri pasien yang dianiaya. Demikian juga terjadi perkembangan yang lebih lambat pada belahan otak kanan pada mereka yang mengalami penganiayaan. Peneliti McLean menduga, kurang berkembangnya hemisfer kiri mempunyai andil yang cukup besar ter¬hadap munculnya depresi serta meningkat-nya risiko untuk melemah atau rusaknya memori para pasien tadi. Mengganggu integrasi antar-hemisfer Selanjutnya, tim Me Lean melakukan penelitian tentang interaksi hemisfer kiri dan hemisfer kanan yang “disambung” de¬ngan corpus callosum, yaitu simpul saraf kompleks dimana terjadi transmisi informasi antar belahan otak. Untuk ini, para peneliti melakukan pencitraan otak dari 51 pasien Program Psikiatri Anak dan Remaja dari RS McLean dengan MRI, kemudian membandingkan hasilnya dengan hasil pencitraan otak sekitar 97 anak sehat dari Institut Nasional Kesehatan Mental. Pada anak-anak yang pernah mengalami penga¬niayaan, corpus callosum-nya lebih kecil dari anak-anak yang sehat. Mereka juga menemukan, anak-anak yang ditelantarkan mengalami hampir 24-42% penyusutan ukuran corpus callosum-nya pada anak-anak laki-laki, namun tidak ditemukan adanya penyusutan tadi pada anak-anak yang dianiaya secara seksual. Pada anak-anak perempuan, penganiayaan secara seksual mengakibatkan penyusutan sekitar 18-30% dari corpus callosum-nya, sementara tidak terjadi penyusutan pada mereka yang ditelantarkan. Selain itu, hasil penelitian menunjuk¬kan bahwa pasien yang dianiaya akan mengalami peningkatan aktivitas antar-hemisfer secara berlebihan dari biasanya. Dari sini, tim McLean membuat teori bahwa corpus callosum yang lebih kecil akan menyebabkan kurang berintegrasinya kedua hemisfer. Akibat hal ini akan terjadi perubahan suasana hati (mood) atau kepribadian yang drastis. Meningkatnya aktivitas vermal Cerebellar vermis adalah bagian dari otak yang melibatkan emosi, perhatian dan pengaturan kerja sistem limbik. Peneliti McLean menggunakan teknik MRI terbaru yang dikenal sebagai T2relaxometry, Fungsi MRI ini untuk memberikan informasi seputar aliran darah ke otak selama periode istirahat. Alat inilah yang digunakan untuk me¬ngukur aktivitas vermal (aliran darah) bagi mereka yang dianiaya maupun yang tidak. Sekitar 32 orang dewasa ikut berpartisipasi, termasuk 15 orang yang pernah mengalami penganiayaan secara seksual tanpa trauma fisik. Penilaian penelitian yang menjadi indikatornya adalah, semakin ting¬gi angka LSCL-33 semakin baik tingkatan aktivitas vermalnya (aliran darahnya). Para peneliti lalu membuat teori lagi, yakni pasien yang dianiaya akan memiliki aktivi¬tas vermal (aliran darah) yang lebih tinggi agar dapat menghentikan gangguan pada hubungan sistem limbik. Mereka menduga, cerebellar vermis membantu menjaga .keseimbangan emosi. Sekalipun demikian, trauma masih dapat merusakkan atau melemahkan kemampuan ini. Mempengaruhi organ lainnya Setelan menentukan 4 macam gang¬guan otak tersebut, para peneliti McLean melakukan penelitian terhadap binatang untuk menentukan sejauh mana kerusakan otak dapat terjadi. Tim McLean juga membuat teori, bahwa stres pada anak yang terjadi karena penganiayaan dan penelantaran dapat memicu pengeluaran hormon-hormon dan penerimaan saraf-saraf pembawa pesan atau isyarat dalam otak dan dari otak ke bagian tubuh lainnya di satu pihak. Semen¬tara itu, pada saat yang bersamaan dapat pula menghambat pengeluaran hormon dan penerimaan saraf-saraf pembawa pesan atau isyarat dalam otak dan dari otak ke bagian tubuh lainnya. Jadi, sel-sel otak akan memberi respons terhadap lingkungan yang tidak ramah baginya. “Kita mengetahui bahwa binatang yang dihadapkan pada stres dan ditelantar¬kan sejak awal perkembangan otaknya, akan berhadapan dengan pengalaman berupa merasa takut, cemas dan stres. Makanya, kita juga berpikir hal serupa akan dialami pula oleh manusia,” kata Teicher.firraz-bobokfirraz-bobok

Bagaimana dengan Indonesia?

Menurut dr. Iramaswaty Kamarul, Sp.A, dari Subbagian Neurolog Anak pada RSAB Harapan Kita, Jakarta, “Penelitian tentang kelainan otak di Indonesia baru sebatas mengidentifikasi dan mengumpulkan data insiden atau angka kejadiannya saja. Kenapa bisa begitu? Faktor budaya dan juga belum adanya kepastian hukum menyebabkan masyarakat masih enggan melaporkan terjadinya penganiayaan atau penelantaran seorang anak.” Ketua Klinik Khusus Tumbuh Kembang RSAB Harapan Kita ini juga menambahkan, “Selama ini, kita menangani anak-anak yang dianiaya dan ditelantarkan secara psikologis saja. Dan, penelitian McLean tersebut membuka mata kita, bahwa anak-anak tersebut ternyata juga mengalami kelainan anatomis dan juga fungsi otaknya. Sekali¬pun demikian, penelitian McLean masih perlu dikembangkan karena belum dijelaskan penyebab timbulnya kelainan otak anak serta bagaimana cara mengatasinya.” Penganiayaan dan penelantaran memang akan menimbulkan trauma bagi si kecil. Selayaknya bila hal ini tak boleh ter¬jadi pada anak siapa pun di lingkungan kita. Ayahbunda (18, 8-210901)

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s