MENGAJARI ANAK MEMBACA SEJAK BARU LAHIR (bag.1)

Oleh : M. Fauzil Adhim*)

Apapun kecerdasan yang ingin kita bangun pada anak, akarnya adalah BAHASA. Sayangnya banyak sekali guru dan bahkan mereka yang di sebut ahli psikologi salah memahami karena terjebak oleh persepsinya sendiri tentang kecerdasan majemuk.Namanya Lev Vygotsky. Satu diantara pakar psikologi Rusia yang namanya mencuat. Sumbangannya yang sangat berharga bagi dunia psikologi dan pendidikan adalah teorinya yang berhasil menunjukan bahwa BAHASA memegang peranan penting (plays a central role) dalam perkembangan kognitif anak. Pembelajaran berbahasa mempengaruhi cara seseorang berpikir tentang dunia. Sebagai contoh, anak yang belajar berbahasa ilmiah tentang klasifikasi akan akan berpikir dengan cara yang berbeda tentang tugas klasifikasi daripada anak yang tidak belajar bahasa seperti itu. Dan anda tahu, kemampuan melakukan klasifikasi merupakan pijakan dasar kecerdasan logis matematik.
Peran strategis bahasa dalam mengembangkan semua jenis kecerdasan anak, terutama di usia dini, mendorong Robert E. Owens, Jr., Ph.D., guru besar di State University of New York di Geneseo untuk menulis sebuah buku yang sangat mudah dicerna oleh guru TPA maupun orang tua. Buku yang berjudul Help Your Baby Talk ini memperkenalkan kepada kita metode komunikasi yang membuat bayi lebih bahagia dan lebih cerdas! Ada langkah-langkah praktis yang sarankan oleh Owens untuk menstimulasi kemampuan berbahasa anak-anak kita dari baru lahir sampai umur dua tahun!

mela_sholat

Ada lagi yang hampir terlupakan, padahal ia ada dalam perintah pertama yang diturunkan kepada kita : Membaca. Banyak orang tua yang menunggu anaknya genap berusia enam atau tujuh tahun, hanya untuk mengajarkan membaca. “Kasihan, Pak masih terlalu kecil”, kata seorang ibu, “Anak-anak kan masa bermain, kalau mereka dipaksa belajar, saya khawatir akibatnya tidak baik.”
Ucapan ibu benar (dan sekaligus salah besar). Benar, karena anak-anak adalah masa bermain. Pada usia Balita, kita tidak diperkenankan membebani anak dengan aktifitas pembelajaran formal yang menegangkan. Tetapi ada kesalahan asumsi yang sangat mendasar. Ibu kita yang baik ini menganggap anak tidak belajar. Padahal semenjak baru dilahirkan, anak sudah mulai belajar dan terus belajar dengan antusias. Melalui pendekatan belajar yang lami dan menyenangkan itulah seharusnya kita mengajarkan membaca kepada anak semenjak baru lahir.
Tetapi kenapa membaca? Secara sederhana, mengajarkan membaca kepada anak, berarti kita mengajarkan kepada mereka kemampuan berbahasa yang lebih teratur, terstruktur dengan rapi, memiliki makna yang kuat dan asosiasi yang sangat kaya. Dan dari Vygotsky kita belajar betapa sentral peran bahasa dalam perkembangan kognitif anak. Tentu manfaat optimal ini akan kita dapatkan apabila buku yang kita sajikan adalah buku-buku yang bergizi (khusus tentang bagaimana memilih buku bergizi buat anak, silakan baca majalah kita Hidayatullah edisi Februari).
Selain itu membaca di usia dini, khusunya pada dua tahun pertama usia anak terbukti merangsang dan meningkatkan IQ anak anak secara signifikan. Jika ingin punya anak yang memiliki IQ yang sangat tinggi, ajarkan membaca kepada mereka semenjak bulan pertama kehidupannya di dunia.!
Tetapi bagaimana caranya? Apa yang perlu kita berikan kepada mereka? Banyak. Salah satu yang harus kita perhatikan adalah bagaimana menghadapi anak dengan wajah yang antusias dan senyum yang mengesankan. Selebihnya mari kita perhatikan apa, bagaimana mengenalkan membaca kepada anak sesuai dengan jenjang usianya. (bag. ke-2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s